Teknopedia.Asia – Dewasa ini, para remaja terutama mereka yang masih duduk di bangku sekolah benar-benar dekat dengan teknologi. Kedekatan akan teknologi tersebut terlihat dari pola aktivitas sehari-hari mereka baik di sekolah maupun di rumah, mulai dari mempunyai smartphone untuk main game atau memesan ojek melalui aplikasi, dan lain sebagainya.

          Namun, 4 siswa Sekolah Menengah Atas ini berbeda dari kebanyakan remaja lainnya. Pasal-nya, walau mereka masih duduk di bangku sekolah yang berarti hanya diisi dengan kegiatan belajar maupun ekstrakulikuler, tetapi mereka mendalami teknologi hingga mempunyai prestasi tersendiri.

Baca Juga : Yuk Dengar Kisah Mahasiswa Indonesia yang Magang di Twitter ini

          Bukan omong kosong, mereka mempelajari hal yang bersifat non-akademik dan bukan suatu hal yang umum di mata masyarakat hingga ke-4 remaja ini berhasil mencapai raihan mereka masing-masing.

  1. Scott Moses Sunarto (16 Tahun / Kelas 12)
Scott di Google HQ San Francisco

Scott di Google HQ San Francisco

Ketertarikan Scott akan komputer dan bisnis membuat remaja yang sedang menimba ilmu di SMAK Penabur Jakarta (Kelas 12) ini membangun start-up (usaha) di dunia teknologi digital (pemrograman/coding).

Scott mulai membangun start-up digital-nya saat kelas 10 bersama teman-temannya.

Memiliki nama CodeBagus, Start-up yang ia bangun tersebut merupakan usaha yang bergerak di bidang jasa, di mana Scott dan tim-nya nanti dapat membuat aplikasi Android sesuai proposal yang dikirim oleh klien.

Hal lain yang menarik, Scott pernah mempresentasikan Start-up jasa-nya tersebut dan mendapati tawaran kerjasama dengan salah satu perusahaan properti ternama di Indonesia.

Selain mendalami teknologi, Ia juga memiliki keahlihan debat dan menjuarai berbagai kompetisi debat tingkat nasional, serta menjuarai kompetisi internasional oleh Google, yaitu Google Code-In 2016 bersama 2 orang lainnya yang juga berasal dari Indonesia.

  1. Alfryan Irgie Valiandra (15 tahun / Kelas 11)
Alfryan Irgie (Kiri) bersama CEO Netmarble Indonesia (Kanan) di Sekai Japan Restaurant

Alfryan Irgie (Kiri) bersama CEO Netmarble Indonesia (Kanan) di Sekai Japan Restaurant

Diawali dengan ketertarikannya akan perangkat lunak pengolahan gambar ternama Adobe Photoshop saat kelas 7 SMP, membuat remaja asal SMA N 66 Jakarta yang baru saja naik ke kelas 11 ini membangun usaha digital-nya sendiri.

Sama seperti Scott yang memiliki Start-up semenjak kelas 10 SMA, ia membangun Start-upnya sendiri saat awal kelas 10 SMA.

Namun, Start-up yang ia bangun berkecimpung di industri yang sangat jarang disentuh oleh para anak muda generasi millennials, yaitu industri media online.

Melalui platform menulis Medium (https://medium.com/@alfryanirgie/perjalanan-seorang-pelajar-15-tahun-membangun-start-up-media-online-4f2ec8cb0190), ia menceritakan pengalaman-nya selama membangun Gamedaim, media online yang ia dirikan bersama tim-nya.

Walau masih terbilang muda, ia acapkali mendapatkan undangan untuk menghadiri konferensi pers, gathering, hingga meeting bersama orang Vietnam dan karyawan dari Google untuk membicarakan mengenai bisnis.

Selain itu, fakta menarik lainnya, ia pernah menangani klien dari Korea Selatan untuk mengerjakan suatu desain grafis, dan rumor-nya, saat ini Start-up yang ia bangun sedang dilirik oleh investor asing.

  1. Ardi Muhammad Husen (17 tahun / Kelas 12)

Masih seperti yang sebelumnya, remaja yang akrab disapa Ardi ini membangun start-up pengembangan aplikasi game bersama teman-teman sekolahnya.

Menariknya, ternyata ia mulai belajar membuat game saat masih duduk di bangku kelas 6 SD, loh. Dan kemudian ia baru menekuni bidang tersebut saat kelas 11 SMA hingga sering mengikuti acara-acara developer game.

Dengan bermodalkan laptop Macbook sebuah saja, ia memiliki tekad dan kerja keras untuk menjadi world-class developer.

Bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta Timur, Ardi membangun tim pengembangan aplikasi game yang disebut dengan Aruby Games.

Tim pengembangan-nya tersebut sudah menyentuh 12 bulan atau 1 tahun, dan Ardi membuat tulisan melalui Medium (https://medium.com/@ardimh7/how-17-years-old-students-make-a-game-company-7ef73bffd18e) mengenai pengalamannya.

  1. Muhammad Raihan Parlaungan (15 tahun / Kelas 11)
Paung (Kanan) bersama temannya di Android Kejar

Paung (Kanan) bersama temannya di Android Kejar

Walau tidak memiliki usaha/bisnis Start-up di bidang teknologi, remaja yang masih berumur 15 tahun ini menjadi fasilitator termuda di Andorid Kejar (Kelompok Belajar) batch ke-3 term pertama 2017.

Akrab disapa Paung, ia sendiri bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Madinatul Qur’an di daerah Jonggol.

Paung (Kanan) bersama temannya di Android Kejar

Menjadi termuda di antara 69 fasilitator domisili JABODETABEK lainnya, tidak membuat Raihan minder akan hal tersebut. Bahkan ia memiliki niat baik, bahwa ia ingin terus berbagi ilmu RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) yang ia miliki agar bermanfaat bagi banyak orang sehingga makin banyak developer berkualitas di Indonesia.

Paung menjadi salah satu fasilitator Android Kejar termuda, dimana ia meluluskan sejumlah peserta di kelas yang ia tangani.

Paung sendiri mulai tertarik memelajari bahasa pemrograman secara otodidak melalui internet untuk menjadi newbie hacker.

Dan hingga saat ini, ia telah membuat beberapa aplikasi mobile yang beberapa telah di-publish di Google Play Store, yaitu Jurnal Devslim, Doa Sehari-hari, Huruf & Angka, Kabar SMK MQ, dan Homework Discussion.

( Artikel ini di tulis oleh Maulidia dan di Sunting oleh Bagus )

Punya artikel menarik tentang dunia startup atau teknologi tanah air? Yuk email artikelmu ke redaksi@teknopedia.asia, bagi yang beruntung akan mendapatkan merchandise yang menarik dari crew Teknopedia.Asia

About the author

Bagus Soesilo

Bagus Soesilo

Jadilah yang pertama, kalau tidak bisa, jadilah yang terbaik, kalau masih tidak bisa juga, jadilah yang berbeda.

Powered by : web hosting indonesia